Rabu 4 Maret 2026 - 21:49
Syarah Doa | Apa Tanda-Tanda Dosa Besar?

Hawzah/  «اللَّهُمَّ لا تُؤَاخِذْنِي فِيهِ بِالْعَثَرَاتِ وَ أَقِلْنِي فِيهِ مِنَ الْخَطَايَا وَ الْهَفَوَاتِ وَ لا تَجْعَلْنِي فِيهِ غَرَضا لِلْبَلايَا وَ الْآفَاتِ بِعِزَّتِكَ يَا عِزَّ الْمُسْلِمِينَ», "Ya Allah, janganlah Engkau hukum aku di bulan ini atas segala kekhilafanku, maafkanlah segala dosa dan kelalaianku, dan lindungilah aku dari segala bala dan musibah. Dengan kemuliaan-Mu, wahai sandaran kemuliaan kaum Muslimin."

Berita Hawzah – Dengan memohon kepada Allah Swt agar menerima segala amal ibadah kaum muslimin, menyajikan penjelasan mengenai doa hari keempat belas bulan suci Ramadhan yang disampaikan oleh Hujjatul Islam wal Muslimin Muhammad Hasan Zamani. Berikut adalah doa hari keempat belas bulan Ramadan beserta artinya:

«اللَّهُمَّ لا تُؤَاخِذْنِي فِيهِ بِالْعَثَرَاتِ وَ أَقِلْنِي فِيهِ مِنَ الْخَطَايَا وَ الْهَفَوَاتِ وَ لا تَجْعَلْنِي فِيهِ غَرَضا لِلْبَلايَا وَ الْآفَاتِ بِعِزَّتِكَ يَا عِزَّ الْمُسْلِمِينَ»

"Ya Allah, janganlah Engkau hukum aku di bulan ini atas segala kekhilafanku, maafkanlah segala dosa dan kelalaianku, dan lindungilah aku dari segala bala dan musibah. Dengan kemuliaan-Mu, wahai sandaran kemuliaan kaum Muslimin."

Dalam doa ini, seorang yang berpuasa memanjatkan tiga permohonan kepada Allah Swt.

Pada bagian pertama doa ini disebutkan: «اللَّهُمَّ لا تُؤَاخِذْنِي فِيهِ بِالْعَثَرَاتِ », "Ya Allah, janganlah Engkau hukum aku di bulan ini atas segala kekhilafanku."

Berdasarkan ayat 7 dan 8 Surah Az-Zalzalah, keadilan Tuhan mewajibkan bahwa Dia akah memberikan pahala atas setiap perbuatan baik, sekecil apapun, dan menghukum setiap perbuatan buruk, sekecil apapun, sebagaimana Allah Swt berfirman: «فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقالَ ذَرَّةٍ خَيْراً يَرَهُ * وَ مَنْ يَعْمَلْ مِثْقالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ», "Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya." Namun, apakah kita yakin bahwa Allah Swt akan menepati janji-Nya atau tidak?, jawabannya bisa jadi, iya dan tidak. Ketika kita menepati janji, hal ini selaras dengan janji-janji baik Allah Swt, sebagaimana firman-Nya: ««ان الله لا یخلف المیعاد», "Sesungguhnya Allah tidak mengingkari janji". Sebaliknya, jika kita melanggar janji, kami percaya bahwa Allah tidak serta merta harus melaksanakan ancaman-Nya. Dalam kebijaksanaan-Nya, Allah selalu mencari jalan untuk mengampuni dosa dan kesalahan, akan tetapi orang yang bersalah itu harus menjadikan dirinya layak untuk menerima ampunan Allah Swt.

Kata 'عثرات' (atsarat) berarti kesalahan. Kesalahan ini setara dengan dosa kecil, bukan dosa besar. Kita cenderung menyebut dosa kecil sebagai kesalahan. Oleh karena itu, kita tidak seharusnya memiliki harapan yang tidak realistis, seolah Tuhan tidak akan menghukum dosa-dosa besar kita. Lebih baik memohon ampunan atas kesalahan dan 'atsarat (عثرات) karena hal ini lebih mudah dan Alquran telah menunjukkan jalannya kepada kita.

Tiga poin penting dalam hal ini;

Poin pertama adalah bahwa Tuhan berjanji bahwa jika manusia menjauhi dosa-dosa besar, Dia akan mengampuni dosa-dosa kecil dan kesalahan. Dalam Surah An-Nisa ayat 31 disebutkan: « إِنْ تَجْتَنِبُوا کَبائِرَ ما تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُکَفِّرْ عَنْکُمْ سَيِّئاتِکُمْ وَ نُدْخِلْکُمْ مُدْخَلاً کَريماً», "Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)." (Besar dan kecilnya dosa relatif terhadap kerusakan individu atau sosial mereka, tetapi relatif terhadap ketidaktaatan kepada Tuhan, semua dosa adalah besar). Atau dalam Surah An-Najm ayat 32, juga disebutkan: «الَّذينَ يَجْتَنِبُونَ کَبائِرَ الْإِثْمِ وَ الْفَواحِشَ إِلاَّ اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّکَ واسِعُ الْمَغْفِرَةِ », " (Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali (melakukan) kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya..."

Poin kedua yang perlu diperhatikan adalah bahwa terkadang Tuhan naik satu tingkat lebih tinggi dan jika kita menciptakan kelayakan dalam diri kita, Dia akan mengubah kesalahan dan kekhilafan itu menjadi kebaikan. Allah Swt berfirman dalam ayat 70 Surah Al-Furqan: « إِلاَّ مَنْ تابَ وَ آمَنَ وَ عَمِلَ عَمَلاً صالِحاً فَأُوْلئِکَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئاتِهِمْ حَسَناتٍ وَ کانَ اللَّهُ غَفُوراً رَحيم»"Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Tanda-tanda Dosa Besar

Poin ketiga yang perlu disebutkan adalah, apa itu dosa besar sehingga kita bisa menghindarinya?. Dalam riwayat, beberapa tanda dari dosa besar telah disebutkan:

1. Dosa-dosa yang dijanjikan azab bagi mereka, adalah dosa-dosa besar.

2. Mengulangi dosa kecil akan menjadikannya dosa besar.

3. Tidak berniat meninggalkan suatu dosa akan menjadikannya dosa besar.

4. Meremehkan dosa kecil akan mengubahnya menjadi dosa besar.

Pada bagian kedua doa ini, kita membaca: «وَ أَقِلْنِي فِيهِ مِنَ الْخَطَايَا وَ الْهَفَوَاتِ» "dan maafkanlah segala dosa dan kelalaianku". Dalam bahasa Arab, kata "أقل" (Aqil) merupakan bentuk perintah (imperatif) dari kata kerja "أقال" (Aqal) yang memiliki bentuk mudhari' "یقیل" (Yaqil) dan masdar "إقاله" (Iqalah). Kata "إقاله" (Iqalah) juga digunakan dalam konteks perdagangan dan fikih ekonomi, yang berarti pembatalan transaksi dan pengembalian ke kondisi awal. Namun, dalam konteks ini, "إقاله" (Iqalah) dimaknai sebagai permohonan kepada Allah: "Ya Allah, maafkan aku dan berilah aku kesempatan untuk menebus kesalahanku." Pertanyaan yang muncul adalah, apakah mungkin seseorang melakukan "إقاله" (Iqalah) dengan makna permohonan ampunan ini, dan Allah menerimanya? Jawabannya bisa iya (positif) atau tidak (negatif).

Kapan Tuhan Tidak Menerima Taubat Manusia?

Di beberapa tempat Tuhan tidak menerima taubat seorang hamba;

1. "إقاله" (Iqalah) yang dilakukan pada saat sakratulmaut dan pencabutan ruh. Firaun, ketika tenggelam, ia berkata, "Aku beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun," yang kemudian Allah berfirman, «آلْآنَ وَ قَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَ کُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدينَ», "Apakah sekarang (kamu baru beriman), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan."

2. "إقاله" (Iqalah) malam pertama di kubur; Allah Swt berfirman dalam ayat 99 dan 100 Surah Al-Mu'minun: «حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَ‌بِّ ارْ‌جِعُونِ * لَعَلِّی أَعْمَلُ صَالِحًا فِیمَا تَرَ‌کْتُ کَلَّا إِنَّهَا کَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِن وَرَ‌ائِهِم بَرْ‌زَخٌ إِلَى یَوْمِ یُبْعَثُونَ» "(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, "Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan." Sekali-kali tidak! Sungguh, itu adalah dalih yang diucapkannya. Dan di hadapan mereka ada dinding (barzakh) sampai hari mereka dibangkitkan."

Namun, jika seseorang melakukan iqalah dan bertaubat dengan sungguh-sungguh, Tuhan akan mengampuninya. Taubat yang sebenarnya mensyaratkan empat rukun, yaitu: (1) menyesali perbuatan di masa lalu, (2) bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut, (3) menebus semua dosa di masa lalu, dan (4) memohon ampunan kepada Tuhan.

Imam Muhammad Al-Baqir alaihissalam dalam sebuah riwayat bersabda: «التائِبُ من الذَّنب كَمَن لا ذَنبَ له و المُقیم على الذّنب و هو مستغفِرٌ منه كالمُستَهز», "Seseorang yang benar-benar bertaubat dari dosanya, maka ia seperti tidak memiliki dosa sama sekali. Namun, orang yang terus berbuat dosa sambil beristighfar, ia sama saja sedang mempermainkan (Tuhan)."

Pada bagian ketiga doa ini disebutkan: «وَ لا تَجْعَلْنِي فِيهِ غَرَضا لِلْبَلايَا وَ الْآفَاتِ», "dan lindungilah aku dari segala bala dan musibah." Musibah dan bencana bisa datang dalam berbagai bentuk, seperti kecelakaan, banjir, penyakit, masalah ekonomi, rusaknya nama baik, dan lain-lain. Lalu, bagaimana cara kita agar doa-doa kita didengar dan dikabulkan? Apa yang bisa kita lakukan untuk melindungi diri dari bencana-bencana ini?

Menurut hadis, ada beberapa faktor yang bisa menyelamatkan kita dari bencana, antara lain: doa yang tulus, sedekah kepada yang membutuhkan, tawassul (berdoa melalui perantaraan orang saleh), serta perencanaan yang baik dan matang.

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha